wahai nona di masa lalu
ceritakanlah kepadaku
apakah rasa berpisah dengan purnama
ketika rasa memuncak dan anak-anak mulai tergelak?
wahai nona di masa lalu
ceritakanlah kepadaku
apakah sebab rasa menjadi begitu muak
hingga perpisahan menjadi keputusan mutlak?
wahai nona berkebaya putih
berambut basah yang duduk di sudut duka
apakah rasamu saat ini pada purnama?
apakah tak lagi ada asa tuk terus memeluk malam bersama dalam desah dan basah
bagai masa-masa silam ketika dunia menghitung hari dengan memperhatikan susunan bintang?
apakah rela jiwamu purnama terangi langit lain setelah lama raganya kau tenangkan dengan belai dan senyum hingga rusa ragamu demi anak-anak yang tergelak? tertawa, penuh harap dan merinduk bapak?
wahai nona masa lalu,
jangan resah jangan gelisah
masih belum purnama duabelas di tempatku.
15/9/2017
Minggu, 28 Januari 2018
Senin, 04 Desember 2017
Cerita pada Senja Tepian Sungai
seketika ia ditabok rasa iri
seketika dengki datang menyapanya dengan kasar
memaksanya tunduk dan pasrah pada realita
tak peduli seberapa kuat ia berteriak pada dunia
bahwa ia mampu,
bahwa ia siap.
tak peduli seberapa kencang ia berlari mengejar harapan yang baginya makin hari makin terasa hanya sebagai mimpi-mimpi yang tak akan pernah ia miliki.
iri tak mau peduli.
dia diserang begitu rupa.
tertohok.
dalam.
lebih dalam dari dalam hatinya.
membuatnya merasa salah dan kalah
barangkali
sesungguhnya, ia tak mampu lagi berdiri tegap.
barangkali
sesungguhnya, ia tak punya lagi kata-kata bijak untuk menguatkan hati pada hari-harinya.
barangkali
sesungguhnya, ia telah amat lelah dan sesak pada tanya-tanya yang terlontar dari mulut-mulut.
atau dari tatap-tatap.
atau dari bisik-bisik.
atau dari sindiran dalam candaan.
barangkali,
memang hanya candaan biasa.
namun,
bagi jiwanya yang sarat karat,
candaan begitu rupa serupa sinisme yang menghantam tembok logikanya
hingga,
ia akhirnya menyerah pada keinginan untuk mulai bertanya-tanya
jika ia tak lantas diberi,
mengapa yang lain berkesempatan merasakan?
apa kurangnya?
apa salahnya?
apa lebihnya mereka?
kira-kira begitulah lelah ia berteriak dalam senyap.
jangan kalian merasa lebih bijak lalu menjawab.
dia tak pernah butuh aksara penuh bujuk.
ia hanya ingin bertanya.
dengan pertanyaan yang dia sendiri tau jawabnya.
12-11-17
seketika dengki datang menyapanya dengan kasar
memaksanya tunduk dan pasrah pada realita
tak peduli seberapa kuat ia berteriak pada dunia
bahwa ia mampu,
bahwa ia siap.
tak peduli seberapa kencang ia berlari mengejar harapan yang baginya makin hari makin terasa hanya sebagai mimpi-mimpi yang tak akan pernah ia miliki.
iri tak mau peduli.
dia diserang begitu rupa.
tertohok.
dalam.
lebih dalam dari dalam hatinya.
membuatnya merasa salah dan kalah
barangkali
sesungguhnya, ia tak mampu lagi berdiri tegap.
barangkali
sesungguhnya, ia tak punya lagi kata-kata bijak untuk menguatkan hati pada hari-harinya.
barangkali
sesungguhnya, ia telah amat lelah dan sesak pada tanya-tanya yang terlontar dari mulut-mulut.
atau dari tatap-tatap.
atau dari bisik-bisik.
atau dari sindiran dalam candaan.
barangkali,
memang hanya candaan biasa.
namun,
bagi jiwanya yang sarat karat,
candaan begitu rupa serupa sinisme yang menghantam tembok logikanya
hingga,
ia akhirnya menyerah pada keinginan untuk mulai bertanya-tanya
jika ia tak lantas diberi,
mengapa yang lain berkesempatan merasakan?
apa kurangnya?
apa salahnya?
apa lebihnya mereka?
kira-kira begitulah lelah ia berteriak dalam senyap.
jangan kalian merasa lebih bijak lalu menjawab.
dia tak pernah butuh aksara penuh bujuk.
ia hanya ingin bertanya.
dengan pertanyaan yang dia sendiri tau jawabnya.
12-11-17
Coretan di Halaman Belakang Buku Catatan
jangan paksa aku mengalah
jangan paksa aku menyerah
aku ingin berjuang
hingga tak ada lagi bahan penyesalan
hingga tak ada lagi waktu untuk ditunggu
hingga tak ada nafas yang menyesakkan
19/10
jangan paksa aku menyerah
aku ingin berjuang
hingga tak ada lagi bahan penyesalan
hingga tak ada lagi waktu untuk ditunggu
hingga tak ada nafas yang menyesakkan
19/10
#1
Matahari pagi pertama yang kita kejar bersama
dengan suasana bagai punggung monolog
aku berkicau pada punggung tegak yang diam menyimak
segalanya terasa romantis
mulai dari debu yang melayang terlihat malu-malu
hingga deru mesin kuda besi yang terdengar mendayu-dayu
pagi itu
padang ilalang di pesisir ujung negeri menjadi saksi
dua anak manusia yang saling menaruh hati masih menyimpan rapat-rapat
rasa yang mereka tau sudah terlanjur bersarang dalam masing-masing benak
diam-diam aku berbisik pada pasir jalanan yang setia menemani
jalan ini
janganlah memiliki akhir.
hari itu,
egois pertamaku.
dengan suasana bagai punggung monolog
aku berkicau pada punggung tegak yang diam menyimak
segalanya terasa romantis
mulai dari debu yang melayang terlihat malu-malu
hingga deru mesin kuda besi yang terdengar mendayu-dayu
pagi itu
padang ilalang di pesisir ujung negeri menjadi saksi
dua anak manusia yang saling menaruh hati masih menyimpan rapat-rapat
rasa yang mereka tau sudah terlanjur bersarang dalam masing-masing benak
diam-diam aku berbisik pada pasir jalanan yang setia menemani
jalan ini
janganlah memiliki akhir.
hari itu,
egois pertamaku.
Rabu, 08 November 2017
Aku dan Sekaleng Soda di Teras Minimarket
senja masih tidur siang
Aku menikmati sekaleng soda
dengan telinga disumpat nada-nada yang mengalun dari telepon genggam
menikmati rindu. niatnya.
sambil berbisik-bisik pada nuansa
berhias romansa pengantin muda di ujung jalan gang.
Aku
nelangsa.
harap terlalu cepat merayap.
aku
takut.
pada rasa.
Aku menikmati sekaleng soda
dengan telinga disumpat nada-nada yang mengalun dari telepon genggam
menikmati rindu. niatnya.
sambil berbisik-bisik pada nuansa
berhias romansa pengantin muda di ujung jalan gang.
Aku
nelangsa.
harap terlalu cepat merayap.
aku
takut.
pada rasa.
Tentang Rasa yang Ada (lagi)
diletakkanNya lagi hati pada debar-debar harap.
pada melodi yang mendadak romantis.
tiap hujan
tiap matahari terbenam
dan rayu-rayu yang melulu terucap
tiap fajar tercecap
mendadak tak ada lagi musim kelabu
meski derai hujan saban malam
memaksa ingatan untuk sesak menanggung rindu.
mendadak tak ada lagi panas kemarau.
meski gersang memaksa keringat bercucuran
dari dahi hingga kaki
seiring engah menahan lelah, menunggu.
sebab hati terlalu sibuk menata mimpi
dalam doa
dan senyum-senyum manis
hingga tak sempat merasa sajian lain dari semesta.
terkecuali senja.
-26/9-
pada melodi yang mendadak romantis.
tiap hujan
tiap matahari terbenam
dan rayu-rayu yang melulu terucap
tiap fajar tercecap
mendadak tak ada lagi musim kelabu
meski derai hujan saban malam
memaksa ingatan untuk sesak menanggung rindu.
mendadak tak ada lagi panas kemarau.
meski gersang memaksa keringat bercucuran
dari dahi hingga kaki
seiring engah menahan lelah, menunggu.
sebab hati terlalu sibuk menata mimpi
dalam doa
dan senyum-senyum manis
hingga tak sempat merasa sajian lain dari semesta.
terkecuali senja.
-26/9-
Tentang Mengetahui
Andai aku tau lebih dulu
bahwa semua sakit hati yang waktu lalu kualami
adalah syarat yang harus kupenuhi agar bisa bertemu denganmu, kini
maka aku tak akan pernah memaki
atau menuntut adil atas lelah dan luka patah hati
andai aku tau lebih dulu
bahwa deras aliran air mata pada luka tanpa sayatan
yang menerjang bendungan ketabahan
hingga membanjir nanah duka menganak sungai
akan bermuara pada hadirmu
maka aku tak akan pernah menyumpah pada dunia
atas segala harap yang terbalas dusta.
-29/9-
bahwa semua sakit hati yang waktu lalu kualami
adalah syarat yang harus kupenuhi agar bisa bertemu denganmu, kini
maka aku tak akan pernah memaki
atau menuntut adil atas lelah dan luka patah hati
andai aku tau lebih dulu
bahwa deras aliran air mata pada luka tanpa sayatan
yang menerjang bendungan ketabahan
hingga membanjir nanah duka menganak sungai
akan bermuara pada hadirmu
maka aku tak akan pernah menyumpah pada dunia
atas segala harap yang terbalas dusta.
-29/9-
Langganan:
Postingan (Atom)