jangan paksa aku mengalah
jangan paksa aku menyerah
aku ingin berjuang
hingga tak ada lagi bahan penyesalan
hingga tak ada lagi waktu untuk ditunggu
hingga tak ada nafas yang menyesakkan
19/10
Senin, 04 Desember 2017
#1
Matahari pagi pertama yang kita kejar bersama
dengan suasana bagai punggung monolog
aku berkicau pada punggung tegak yang diam menyimak
segalanya terasa romantis
mulai dari debu yang melayang terlihat malu-malu
hingga deru mesin kuda besi yang terdengar mendayu-dayu
pagi itu
padang ilalang di pesisir ujung negeri menjadi saksi
dua anak manusia yang saling menaruh hati masih menyimpan rapat-rapat
rasa yang mereka tau sudah terlanjur bersarang dalam masing-masing benak
diam-diam aku berbisik pada pasir jalanan yang setia menemani
jalan ini
janganlah memiliki akhir.
hari itu,
egois pertamaku.
dengan suasana bagai punggung monolog
aku berkicau pada punggung tegak yang diam menyimak
segalanya terasa romantis
mulai dari debu yang melayang terlihat malu-malu
hingga deru mesin kuda besi yang terdengar mendayu-dayu
pagi itu
padang ilalang di pesisir ujung negeri menjadi saksi
dua anak manusia yang saling menaruh hati masih menyimpan rapat-rapat
rasa yang mereka tau sudah terlanjur bersarang dalam masing-masing benak
diam-diam aku berbisik pada pasir jalanan yang setia menemani
jalan ini
janganlah memiliki akhir.
hari itu,
egois pertamaku.
Rabu, 08 November 2017
Aku dan Sekaleng Soda di Teras Minimarket
senja masih tidur siang
Aku menikmati sekaleng soda
dengan telinga disumpat nada-nada yang mengalun dari telepon genggam
menikmati rindu. niatnya.
sambil berbisik-bisik pada nuansa
berhias romansa pengantin muda di ujung jalan gang.
Aku
nelangsa.
harap terlalu cepat merayap.
aku
takut.
pada rasa.
Aku menikmati sekaleng soda
dengan telinga disumpat nada-nada yang mengalun dari telepon genggam
menikmati rindu. niatnya.
sambil berbisik-bisik pada nuansa
berhias romansa pengantin muda di ujung jalan gang.
Aku
nelangsa.
harap terlalu cepat merayap.
aku
takut.
pada rasa.
Tentang Rasa yang Ada (lagi)
diletakkanNya lagi hati pada debar-debar harap.
pada melodi yang mendadak romantis.
tiap hujan
tiap matahari terbenam
dan rayu-rayu yang melulu terucap
tiap fajar tercecap
mendadak tak ada lagi musim kelabu
meski derai hujan saban malam
memaksa ingatan untuk sesak menanggung rindu.
mendadak tak ada lagi panas kemarau.
meski gersang memaksa keringat bercucuran
dari dahi hingga kaki
seiring engah menahan lelah, menunggu.
sebab hati terlalu sibuk menata mimpi
dalam doa
dan senyum-senyum manis
hingga tak sempat merasa sajian lain dari semesta.
terkecuali senja.
-26/9-
pada melodi yang mendadak romantis.
tiap hujan
tiap matahari terbenam
dan rayu-rayu yang melulu terucap
tiap fajar tercecap
mendadak tak ada lagi musim kelabu
meski derai hujan saban malam
memaksa ingatan untuk sesak menanggung rindu.
mendadak tak ada lagi panas kemarau.
meski gersang memaksa keringat bercucuran
dari dahi hingga kaki
seiring engah menahan lelah, menunggu.
sebab hati terlalu sibuk menata mimpi
dalam doa
dan senyum-senyum manis
hingga tak sempat merasa sajian lain dari semesta.
terkecuali senja.
-26/9-
Tentang Mengetahui
Andai aku tau lebih dulu
bahwa semua sakit hati yang waktu lalu kualami
adalah syarat yang harus kupenuhi agar bisa bertemu denganmu, kini
maka aku tak akan pernah memaki
atau menuntut adil atas lelah dan luka patah hati
andai aku tau lebih dulu
bahwa deras aliran air mata pada luka tanpa sayatan
yang menerjang bendungan ketabahan
hingga membanjir nanah duka menganak sungai
akan bermuara pada hadirmu
maka aku tak akan pernah menyumpah pada dunia
atas segala harap yang terbalas dusta.
-29/9-
bahwa semua sakit hati yang waktu lalu kualami
adalah syarat yang harus kupenuhi agar bisa bertemu denganmu, kini
maka aku tak akan pernah memaki
atau menuntut adil atas lelah dan luka patah hati
andai aku tau lebih dulu
bahwa deras aliran air mata pada luka tanpa sayatan
yang menerjang bendungan ketabahan
hingga membanjir nanah duka menganak sungai
akan bermuara pada hadirmu
maka aku tak akan pernah menyumpah pada dunia
atas segala harap yang terbalas dusta.
-29/9-
Rabu, 04 Oktober 2017
Kapuas dan Senja
Kuberi tahu kamu sebuah rahasia.
Jika terjadi hujan pada pukul dua.
Kemudian rintik hingga pukul lima.
Lalu awan berarak memudar menuju senja.
Pergilah kamu ke tepi Kapuas.
Carilah tempat lapang.
Lalu tataplah arah barat.
Kuatkan dirimu.
Siap-siaplah terpesona.
19/9
Jika terjadi hujan pada pukul dua.
Kemudian rintik hingga pukul lima.
Lalu awan berarak memudar menuju senja.
Pergilah kamu ke tepi Kapuas.
Carilah tempat lapang.
Lalu tataplah arah barat.
Kuatkan dirimu.
Siap-siaplah terpesona.
19/9
Sabtu, 09 September 2017
Surat Kepada Rindu
Kuburaya,
9 September 2017
Yang terhormat, Rindu.
Di tempat.
Dengan hormat,
Melalui surat ini saya ingin mengabarkan bahwa saya yang sedang duduk
di bawah taburan bintang tertutup awan dengan suasana sejuk bulan September,
sedang merasakan kehadiran Anda. Melalui surat ini juga saya yang saat ini
sedang menatap sebuah foto dengan gambar penuh warna menyejukkan mata namun
objeknya membuat jantung saya berdetak seirama drum heavy metal, menyatakan bahwa saya sedang menikmati kehadiran Anda.
Tahukan Anda, bahwa saat ini Anda sedang menyiksa saya dengan amat syahdu? Saya
tidak mengerti, mengapa Anda datang merayap seperti cicak menangkap nyamuk di
plafon kamar saya? Anda datang tanpa suara meski hanya desahan, namun kehadiran
Anda begitu nyata senyata kamar saya yang amat sangat berantakan. Mengapa
demikian? Apakah sejak Anda datang saya jadi malas berkemas karena raga saya
lebih memilih bergelung di balik selimut seraya menikmati belaian Anda, Rindu?
Yang terhormat, Rindu.
Melalui surat ini juga saya ingin tekankan bahwa saya, yang saat ini
sedang berjibaku dengan waktu sebab menunggu, tidak keberatan dengan kehadiran
Anda dan saya menganggap bahwa Anda membuat saya lebih bisa menikmati derai
hujan 9 september yang ruah mengeroyok bumi khatulistiwa dengan penuh romansa.
Demikian surat ini saya
sampaikan. Terima kasih atas kehadiran Anda yang membuat saya tersenyum dan
nelangsa dalam satu ketukan masa. Semoga apa yang saya sampaikan dalam surat ini dapat Anda pahami dengan saksama dan akan
lebih baik jika Anda sampaikan kepada dia.
Hormat saya.
Yang duduk mengetik pukul 23.23
Langganan:
Postingan (Atom)